SISI LAIN DUNIA – Bapakku Gun Jack, Preman Terbesar Yogyakarta

Wulan Mayastika mulai mempertanyakan apa sesungguhnya pekerjaan sang ayah gara-gara rentetan peristiwa sepele. Semuanya dipicu satu keganjilan kecil: cara orang-orang memanggil nama bapaknya. Biarpun saat lahir dia diberi nama Gunardi, nyatanya semua orang di kampung memanggil bapaknya “Gun Jack” penuh hormat, kadang sambil ketakutan. Ada yang memanggilnya Gowok. Nama lain sang bapak yang kesohor adalah Agus Joko Lukito. Tapi dari semua julukan itu, Gun Jack tetap yang paling dikenal.

Bermula dari perkara panggilan itulah, Wulan semakin mempertanyakan cara sang ayah mencari nafkah. Kolom keterangan pekerjaan Gunardi di KTP tertulis wiraswata. Tapi kenapa bapaknya, seorang pemilik warung bakso, mempunyai gerombolan anak buah yang selalu siap diperintah? Selain itu, siklus hidup Gunardi terhitung tak lazim untuk seorang wiraswastawan.

Aku bingung. Bapakku itu dunianya terbalik, kalau malam buat kerja dan siang buat tidur,” kata Wulan saat ditemui di rumahnya bulan lalu. “Aku merasa aneh soalnya temen-temen bapak suka ke rumah kan. Terus mereka itu serem-serem begitu lho bentuknya, tapi orang-orangnya nyenengin.”

Kecurigaan Wulan bertambah saat dia menemukan banyak senjata tajam di mobil sang ayah. Lagi-lagi, dia tak sengaja memergokinya. “Aku pernah suatu hari berangkat sekolah diantar ibuku naik mobil. Terus pas mengikat tali sepatu di bawah jok itu ada pedang-pedang gitu,” ujarnya. “Aku tanya ibu, ‘ini apa?’, tapi ibuku cuma bilang ‘oh itu dari tempat babe’.”

Gunardi punya sebutan akrab yang hanya digunakan oleh anggota keluarga dan orang-orang terdekat: Babe.

Wulan tumbuh di Badran, Kecamatan Tegalrego, sebuah kampung di utara Kota Yogyakarta yang dulunya hamparan pemakaman Cina. Sekian dekade silam, para perampok dan pencuri yang menjadi buronan polisi menggunakan pemakaman ini untuk bersembunyi. Lambat laun, rumah-rumah berdiri di atas tanah pekuburan. Hingga kini, Badran masih menanggung cap lingkungan para kriminal. Apabila anda berasal dari Badran, sangat mungkin bila anda mengenal atau malah anda sendiri seorang kriminal, penjudi, pemabuk, transgender, atau orang-orang yang dianggap edan oleh masyarakat. Begitulah pengakuan Wulan.

Di lingkungan sarat kriminalitas ini, Gun Jack menjadi penguasa tunggal. Di luar bisnis bakso, sehari-hari dia mengamankan perjudian lokal, sekaligus dibayar oleh para penguasa yang berada di balik layar menyokong aktivitas para bandar. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cabang Yogyakarta, melalui sayap organisasi Gerakan Pemuda Kabah, sesekali menggunakan jasanya sebagai petugas keamanan.

Bagi warga Yogyakarta yang mengenalnya akrab, Gun Jack sebenarnya tidak ditakuti. Dia justru dikenal sebagai figur yang baik hati dan berpikiran terbuka. Contohnya ketika Gun Jack mengadopsi dan mengasuh seorang bocah lelaki berumur 13 tahun dari Solo, setelah ayahnya – sahabat Gun Jack – meninggal. Bocah itu kini telah dewasa dan dikenal dengan julukan Mas Doni.

Doni, sekarang 36 tahun, merupakan satu-satunya anak asuh Gun Jack yang mengikuti jejak berkecimpung di dunia preman. Gun Jack pernah memintanya fokus sekolah, tapi Doni tak menuruti perintah ayah angkatnya itu.

Aku mesti hidup di jalanan karena tidak ada pilihan lain,” kata Doni. “Babe tidak pernah menghakimi atau memarahi aku sama sekali. Dia bukan tukang menghakimi. Dia ingin semua orang jujur menjadi dirinya sendiri. Sebagai bentuk balas budi, kuabdikan hidup untuknya.”

Saat Wulan masih di kandungan sang ibu, Gun Jack sedang menjalani hukuman kurungan singkat. Dia dibui akibat tidak sengaja membunuh seorang pria saat berkelahi di klub biliar setempat. Gun Jack bebas tak lama setelah Wulan lahir.

Bagi Wulan, menjadi anak seorang preman terbesar Badran merupakan pengalaman yang menarik sekaligus cobaan berat. Walau sering disebut baik hati, toh Wulan ingat betul bapaknya sering naik pitam apabila diprovokasi orang lain. Selain itu, Gun Jack punya aturan-aturan sendiri yang dibuat manasuka, sesuai citra preman kebanyakan.

Pengalaman di Malioboro menjadi salah satu sisi gelap sang bapak yang sangat diingat Wulan. Saat itu Gun Jack memarkir mobil di kawasan yang seharusnya bebas kendaraan. Tak berapa lama juru parkir menegurnya. Gun Jack murka, memanggil kawan-kawannya, lalu mengeroyok si tukang parkir.

Aku melihat sendiri bapakku salah parkir dan mukulin tukang parkir,” kata Wulan mengenang peristiwa sekian tahun lalu itu.

Habis itu aku keluar dan jalan sendiri. Aku engga mau ikut mobilnya. Aku jalan kaki beneran, bapakku ngikutin dan dia minta maaf. Terus aku bilang aku engga mau pergi lagi sama dia.”

Wulan sempat lama tak bisa memaafkan ayahnya. Insiden di Malioboro baru satu peristiwa yang menunjukkan watak gelap ayahnya. Pernah Wulan bermasalah dengan seorang penjaga kantin sekolah, ayahnya datang membawa segerombolan pria. Mereka siap memberi si penjaga kantin ‘pelajaran’, untung berhasil dicegah.

Di kesempatan berbeda, sesudah Wulan pulang dari sekolah, semua kaca jendela rumahnya pecah. Penyebabnya ternyata pertempuran antara geng Gun Jack dengan kelompok musuh yang ingin balas dendam. “Semua kaca hancur berantakan,” kata Wulan. “Warung baksoku itu juga pernah dibom sama kelompok preman yang lain. Lumayan, masuk koran juga waktu itu.”

Wulan mengakui sebagian pengalaman masa kecilnya cukup traumatis. Bagaimanapun, ada untungnya jadi anak preman. Kadang dia mendapat hadiah dari orang tidak dikenal. Salah satu yang dia ingat adalah saat berkunjung ke Stasiun Kereta Tugu. Sesudah Wulan kelar makan di salah satu restoran, sang pemilik menolak dibayar. Bahkan satpam setempat menunjukkan hormat dengan cara menemani Wulan menyeberang jalan. Kali lain, sewaktu ayahnya menjemput Wulan di sekolah, semua anak-anak setempat bersorak “Gun Jack! Gun Jack!

Semua orang kenal bapakku,” ujar Wulan. Kekuasaan dan pengaruh Gun Jack mulai pertengahan 1990-an hingga awal abad 21 meluas ke seantero Kota Yogyakarta, tak hanya di Badran.

Seiring Wulan tumbuh dewasa, sang ayah membeberkan satu lagi sisi kehidupan yang selama ini dia sembunyikan. Gun Jack mengajak anak gadisnya bicara empat mata. Gunardi rupanya khawatir Wulan membenci dirinya, seorang preman kenamaan.

Dia pikir aku malu sebagai anaknya,” ujarnya. Sekonyong-konyong Gun Jack mengeluarkan sebuah kartu anggota Badan Intelijen Negara (BIN). “‘Ini lho kerjaan babe sebenarnya. Kamu jangan malu lagi ya punya bapak babe, kamu harusnya bangga‘” kata Wulan menirukan ucapan ayahnya saat itu.

Sekian pertanyaan di benak Wulan terjawab sudah. Selain sepak terjangnya sebagai preman, Wulan sebetulnya menyadari ayahnya sering bepergian ke luar kota. Kadang bahkan hingga mancanegara. Ayahnya meninggalkan rumah paling lama saat terjadi kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah awal 2000-an. Begitu pula ketika peristiwa Bom Bali pertama terjadi pada 2002.

Sejak pengakuan itu Wulan lebih menerima sang ayah apa adanya. Hubungan mereka semakin dekat, sekalipun Gun Jack kadang lama tak pulang. “Ternyata karena dia masuk intelijen.”

Wulan, kini 22 tahun, masih tinggal di Badran. Pengalaman sebagai anak seorang preman – dengan segala lika-likunya – membangkitkan ketertarikan Wulan pada cara kerja otak manusia. Dia memperoleh gelar sarjana psikologi Universitas Gajah Mada dan tengah mencari pekerjaan.

YOGYAKARTA SETELAH ERA GUN JACK

Kedekatan Wulan dan ayahnya, yang sebetulnya semakin erat, terpaksa berakhir. Gun Jack meninggal pada 2011 akibat limfoma – kanker kelenjar getah bening yang menggerogoti kekebalan tubuh. Sejak itu, bagi Wulan, Yogyakarta tidak lagi sama. Sepeninggal Gun Jack, Yogyakarta dikuasai kelompok preman baru.

Para preman berusia muda ini sering menggunakan intimidasi. Tak jarang mereka memaksa seniman liberal dan aktivis Yogyakarta menghentikan acara-acara bertema sosial dan kritis pada pemerintah. Motivasi dan metode gerombolan preman generasi baru ini, menurut Wulan, jauh berbeda dibandingkan dengan era Gun Jack.

Wulan ingat, sekalipun tak menutup-nutupi statusnya sebagai preman, ayahnya adalah pria yang berusaha mendirikan peternakan agak para pekerja seks transgender dapat memiliki pekerjaan layak. Gun Jack punya kepedulian yang kuat pada kaum-kaum terpinggirkan.

Ini pembeda Gun Jack dari preman yang sekarang menguasai Yogya: Dia bisa berbaur. Dia rutin bertemu tukang becak, pedagang angkringan di segala penjuru, serta para pedagang kaki lima. Gun Jack rutin memberi bantuan sembako bagi janda-janda miskin seputaran Badran saat masih berkuasa.

Dia bahkan menjadi inisiator pendirian masjid. Berdasarkan catatan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ulil Amri, yang mendalami telaah sosiologis premanisme Yogyakarta kurun 2004-2005, Gun Jack memprakarsai pembangunan 18 masjid semasa hidupnya.

Doni merasa ayah angkatnya bukan sembarang preman. Kehadiran Gun Jack membuat kawasan-kawasan pelacuran kumuh di Yogyakarta, dalam istilahnya, menjadi “punya wibawa”. Terutama sentra jasa prostitusi Pasar Kembang, dan Ngebong di pinggiran rel Stasiun Tugu. Walaupun di sana berkumpul pemabuk, pelacur, pencuri, hingga pemadat, semua penghuninya bersatu menjadikan Gun Jack sebagai bapak mereka semua.

Sekarang Doni menilai para preman penerus Gun Jack lebih sibuk bersaing antar geng tanpa memperhatikan kalangan minoritas. “Bagi orang-orang yang hidup di jalanan sekarang sih kondisinya kacau,” ujarnya. “Mereka saling baku hantam demi kekuasan dan harta belaka. Mereka butuh seorang figur yang bisa memberi contoh, figur yang bisa mengajari bagaimana cara hidup di jalanan secara terhormat dan menghargai sesama dan tetangga sekitar.”

Doni tak mempersoalkan bila ayah angkatnya dikenang sebagai preman. Tapi dia ingin Gun Jack diakui sebagai preman baik. “Dia adalah seorang panutan,” ujarnya.

“Gun Jack selalu memperhatikan kaum-kaum yang terpinggirkan. Ketika beliau masih hidup, area Pasar Kembang dihormati. Sekarang, rasa hormat itu sudah lenyap.”

artikel diatas saya salin dari vice. com tanpa mengedit sedikitpun dari artikel aslinya.

sumber : http://www.vice. com/id_id/read/bapakku-gun-jack-preman-terbesar-yogyakarta

Penulis : Dea Karina

di Salin : 10-11-2016 : 13.39

Leave a Reply